Rabu, 09 September 2026
Unit Usaha Ketahanan Pangan BUMDesa Nawa Dana Sebatu: Mengelola Penyertaan Modal Dana Desa Rp338,28 Juta untuk Penggemukan Babi dan Pengembangan Usaha Produktif Berbasis Potensi Lokal
SEBATU, GIANYAR — Upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus membangun kemandirian ekonomi desa terus dikembangkan melalui pengelolaan usaha produktif oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa). Di Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, langkah tersebut diwujudkan melalui Unit Usaha Ketahanan Pangan BUMDesa Nawa Dana Sebatu dengan fokus pada sektor ketahanan pangan hewani melalui usaha penggemukan babi.
Kegiatan Monev ini menjadi bagian penting untuk melihat secara langsung perkembangan usaha, kondisi sarana dan prasarana, pengelolaan ternak, hingga proses produksi yang telah berjalan sejak program tersebut dikembangkan.
Penyertaan Modal Rp338,28 Juta
Unit usaha penggemukan babi tersebut didukung melalui penyertaan modal APBDesa Sebatu Tahun 2025 yang bersumber dari Dana Desa sebesar Rp338.280.500.
Dana tersebut digunakan untuk membangun fondasi usaha sekaligus mendukung keberlangsungan operasional unit usaha. Adapun penggunaannya meliputi:
1. Pembangunan kandang babi: ± Rp164.280.500.
2. Pengadaan bibit babi, pakan, obat-obatan dan operasional lainnya: Rp174.000.000.
Dengan demikian, penyertaan modal desa tidak semata-mata diarahkan pada pembangunan fisik, tetapi juga menjadi modal untuk menggerakkan siklus usaha peternakan secara lebih utuh, mulai dari pengadaan ternak, pemeliharaan, pemberian pakan, kesehatan ternak, hingga proses panen dan pemasaran.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa investasi desa diarahkan pada kegiatan yang diharapkan mampu menghasilkan aktivitas ekonomi secara berkelanjutan, bukan hanya menghasilkan aset fisik.
55 Bibit, Panen Perdana 10 Ekor
Dalam pelaksanaannya, Unit Usaha Ketahanan Pangan BUMDesa Nawa Dana Sebatu melakukan pengadaan 55 ekor bibit babi untuk dikembangkan melalui pola penggemukan.
Setelah melalui proses pemeliharaan dan penggemukan, pada kegiatan hari ini dilakukan panen perdana sebanyak 10 ekor babi.
Panen perdana tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam perjalanan usaha. Dari 55 ekor bibit yang sebelumnya dikembangkan, sebanyak 10 ekor atau sekitar 18,18 persen telah memasuki tahap panen, sementara ternak lainnya masih menjadi bagian dari siklus usaha yang berjalan.
Namun, lebih dari sekadar jumlah ternak yang dipanen, momentum ini menjadi kesempatan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas pengelolaan unit usaha.
Monev dapat menjadi ruang untuk melihat berbagai aspek penting, mulai dari pertumbuhan ternak, kesehatan dan tingkat kelangsungan hidup, efisiensi penggunaan pakan, kebutuhan obat-obatan, biaya operasional, waktu pemeliharaan, hingga hasil penjualan dan perputaran modal usaha.
Dengan evaluasi yang dilakukan secara berkala, pengelolaan usaha diharapkan semakin terukur dan mampu menjadi dasar dalam menentukan strategi pengembangan pada siklus berikutnya.
Kandang dan Sistem Pemeliharaan Menjadi Bagian Penting
Keberadaan kandang yang dibangun melalui dukungan penyertaan modal desa menjadi salah satu infrastruktur utama dalam menjalankan unit usaha tersebut.
Berdasarkan dokumentasi kegiatan, kandang penggemukan telah dilengkapi dengan sejumlah fasilitas yang mendukung pemeliharaan ternak, termasuk ruang pemeliharaan, ventilasi, serta lingkungan kandang yang memungkinkan ternak mendapatkan perawatan secara teratur.
Selain aspek fisik, keberhasilan usaha peternakan juga sangat bergantung pada manajemen pemeliharaan. Kualitas pakan, kebersihan kandang, kesehatan ternak, pemberian obat-obatan maupun vaksinasi, serta pengawasan rutin menjadi faktor yang menentukan performa ternak hingga memasuki masa panen.
Karena itu, Monev tidak hanya menjadi kegiatan pemeriksaan administratif, tetapi juga menjadi instrumen untuk memastikan bahwa modal desa benar-benar diterjemahkan menjadi kegiatan usaha yang produktif dan dikelola secara bertanggung jawab.
Kolaborasi dengan Kelompok Masyarakat di Banjar Pujung Kaja
Salah satu aspek menarik dari pengembangan Unit Usaha Ketahanan Pangan BUMDesa Nawa Dana Sebatu adalah pemanfaatan lahan melalui pola kerja sama.
Untuk lokasi kegiatan, BUMDesa Nawa Dana Sebatu bekerja sama dengan salah satu kelompok masyarakat di Banjar Pujung Kaja, Desa Sebatu.
Pola kerja sama tersebut memperlihatkan adanya upaya membangun hubungan saling menguatkan antara kelembagaan ekonomi desa dengan masyarakat.
Di satu sisi, BUMDesa memiliki peran sebagai pengelola unit usaha; sementara di sisi lain, masyarakat dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang tumbuh melalui pemanfaatan sumber daya lokal.
Model semacam ini berpotensi menjadi salah satu pola pengembangan ekonomi desa yang lebih inklusif, karena keberadaan usaha BUMDesa tidak berdiri sendiri, melainkan dapat melibatkan masyarakat dan potensi yang tersedia di wilayah desa.
Monev Dihadiri Unsur Pemerintahan Desa, BUMDesa dan Pendamping Desa
Kegiatan Monev dihadiri oleh sejumlah unsur yang memiliki peran dalam penyelenggaraan dan pengembangan unit usaha tersebut.
Hadir dalam kegiatan tersebut:
Plt. Perbekel Sebatu I Gede Bawa Sujana, S.Sos., M.I.Kom.;
Direktur BUMDesa Nawa Dana Sebatu Pande Putu Suwarja Ariana;
Sekretaris BUMDesa I Nyoman Triana Widhi Arsa;
Kepala Unit Usaha Ketahanan Pangan Ni Wayan Novi Indayani; serta
Pendamping Desa Ni Wayan Eka Anggawati.
Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan pentingnya sinergi dalam memastikan program ketahanan pangan yang dikelola melalui BUMDesa dapat berjalan sesuai tujuan, sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi desa.
Dari Modal Desa Menjadi Aktivitas Ekonomi
Program penggemukan babi BUMDesa Nawa Dana Sebatu pada dasarnya memperlihatkan sebuah proses bagaimana penyertaan modal desa dapat diarahkan menjadi aktivitas ekonomi produktif.
Dana sebesar Rp338.280.500 tidak berhenti sebagai angka dalam dokumen anggaran, tetapi diwujudkan dalam bentuk sarana usaha, pengadaan ternak, pakan, obat-obatan dan kebutuhan operasional yang kemudian menghasilkan sebuah siklus produksi.
Panen perdana 10 ekor babi menjadi titik awal untuk melihat sejauh mana model usaha tersebut mampu berkembang dan memberikan hasil.
Ke depan, tantangan pengelolaan tentu bukan hanya meningkatkan jumlah ternak, tetapi juga memastikan usaha memiliki efisiensi biaya, produktivitas yang baik, manajemen kesehatan ternak, strategi pemasaran, perputaran modal dan pencatatan keuangan yang transparan.
Jika seluruh aspek tersebut dapat dikelola secara konsisten, Unit Usaha Ketahanan Pangan BUMDesa Nawa Dana Sebatu berpeluang berkembang tidak hanya sebagai program ketahanan pangan, tetapi juga sebagai salah satu mesin ekonomi desa yang memberikan nilai tambah dari potensi lokal.
Menjadikan Monev sebagai Dasar Pengembangan Usaha
Momentum panen perdana seharusnya tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjadi baseline evaluasi bagi perjalanan unit usaha berikutnya.
Hasil dari siklus pertama dapat menjadi bahan untuk menghitung tingkat efisiensi usaha, mengevaluasi biaya produksi, menentukan pola pemeliharaan yang lebih efektif, memperbaiki manajemen pakan dan kesehatan ternak, serta menyusun strategi pemasaran yang lebih optimal.
Dengan pendekatan berbasis data tersebut, setiap siklus penggemukan dapat menghasilkan pembelajaran baru. Dari sinilah profesionalisme pengelolaan BUMDesa dapat terus dibangun.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah unit usaha desa bukan hanya diukur dari seberapa besar modal yang telah disalurkan, tetapi dari seberapa baik modal tersebut dikelola, seberapa besar nilai ekonomi yang berhasil diciptakan, serta seberapa nyata manfaatnya bagi keberlanjutan perekonomian desa dan masyarakat.
Panen perdana 10 ekor babi di Unit Usaha Ketahanan Pangan BUMDesa Nawa Dana Sebatu menjadi sebuah penanda bahwa proses tersebut telah dimulai.
Dari modal desa, dibangun sarana usaha. Dari sarana usaha, dikembangkan produksi. Dari produksi, diharapkan tumbuh nilai ekonomi. Dan dari pengelolaan yang profesional, transparan serta berkelanjutan, diharapkan lahir kemandirian ekonomi Desa Sebatu.
Langganan:
Postingan (Atom)
Unit Usaha Ketahanan Pangan BUMDesa Nawa Dana Sebatu: Mengelola Penyertaan Modal Dana Desa Rp338,28 Juta untuk Penggemukan Babi dan Pengembangan Usaha Produktif Berbasis Potensi Lokal
SEBATU, GIANYAR — Upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus membangun kemandirian ekonomi desa terus dikembangkan melalui pengelolaan us...
-
Desa Kedisan mempunyai merupakan Daerah Pertanian, memiliki Sumber daya alam yang indah dan Sumber daya manusia yg hanal, Salah satunya ...
-
DESA TARO MENGIKUTI PENILAIAN DESA ANTI KORUPSI

